Kasus Dugaan Keracunan MBG Di Cirebon Tembus 395 Orang, Dinkes Telusuri Penyebab

KOTA CIREBON | Transjabar.com – Jumlah warga yang mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Cirebon kembali mengalami peningkatan. Data terbaru Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cirebon mencatat total pasien mencapai 395 orang, bertambah 64 orang dibandingkan data sebelumnya yang berjumlah 331 orang.

Kamis (22/10/2026).

Kepala Dinas Kesehatan Kota Cirebon, Siti Maria, menyampaikan bahwa dari total tersebut, sebanyak 218 orang masih menjalani rawat inap di sejumlah rumah sakit. Sementara 177 orang lainnya tercatat menjalani rawat jalan maupun telah diperbolehkan pulang setelah mendapatkan penanganan medis.

Menurut Siti Maria, meskipun jumlah pasien secara keseluruhan masih bertambah, kondisi pasien yang menjalani perawatan dilaporkan relatif terkendali.

“Sudah ada pengurangan pasien yang dirawat. Sebanyak 218 orang masih rawat inap, sedangkan 177 lainnya rawat jalan dan ada yang sudah pulang,” ujarnya.

Ia menambahkan, berdasarkan informasi yang diterima dari sejumlah rumah sakit, tidak ada lagi pasien yang dilaporkan mengalami kondisi serius hingga membutuhkan perawatan intensif.

“Alhamdulillah, kami mendapatkan informasi dari rumah sakit bahwa tidak ada lagi pasien yang kondisinya serius sehingga membutuhkan perawatan intensif. Rata-rata pasien masih mengalami diare dan membutuhkan perawatan biasa,” jelasnya.

Dinkes Kota Cirebon masih mencatat adanya penambahan pasien pada hari yang sama. Namun, tidak semua pasien baru harus menjalani rawat inap. Sebagian mendapatkan penanganan melalui instalasi gawat darurat (IGD) maupun pelayanan rawat jalan di puskesmas.

Pendataan juga terus dilakukan terhadap warga yang mendapatkan pelayanan di sejumlah fasilitas kesehatan. Proses tersebut mencakup rumah sakit yang baru masuk dalam pencatatan, di antaranya Rumah Sakit Muhammadiyah dan Rumah Sakit Permata.

Penambahan data dari fasilitas kesehatan tersebut menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam membaca perkembangan jumlah pasien. Karena itu, pemutakhiran data diperlukan agar kondisi penanganan dapat terpantau secara menyeluruh.

Di tengah bertambahnya jumlah pasien, Dinkes Kota Cirebon terus berupaya menelusuri faktor yang diduga berkaitan dengan kejadian tersebut.

Siti Maria mengatakan, pihaknya berkonsultasi dengan dokter spesialis mikrobiologi klinik untuk mengkaji kemungkinan hubungan antara waktu konsumsi makanan dan munculnya gejala gangguan kesehatan pada pasien.

Menurutnya, setiap jenis bakteri atau kuman memiliki masa inkubasi yang berbeda. Oleh sebab itu, diperlukan kajian medis untuk mengetahui rentang waktu antara konsumsi makanan yang diduga bermasalah dan timbulnya gejala pada warga.

Penelusuran tersebut penting untuk membantu mengidentifikasi kemungkinan sumber penyebab, sekaligus menjadi dasar dalam menentukan langkah penanganan lebih lanjut.

Hingga saat ini, penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami ratusan warga tersebut masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Hasil penyelidikan epidemiologis serta pemeriksaan laboratorium diharapkan dapat memberikan kejelasan mengenai faktor yang memicu kejadian tersebut.

Perkembangan kasus ini menjadi perhatian, mengingat jumlah pasien yang tercatat terus meningkat. Masyarakat pun menantikan hasil pemeriksaan resmi agar penyebab kejadian dapat diketahui secara jelas dan langkah pencegahan terhadap kasus serupa bisa dilakukan secara tepat.

 

( Falah )