UMKM Melemah Berdampak pada Kredit Mikro, Ini Faktornya

TRANSJABAR.COM | Melemahnya pelaku usaha khususnya Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) akan berdampak negatif pada kredit mikro, terutama pada pertumbuhan kredit mikro dapat bisa melambat sehingga berisiko pada meningkatnya kredit macet.  Dampaknya tentu pada dua hal, selain mempengaruhi sistem pengelolaan keuangan lembaga. Dan, dampak  pada pelaku usaha itu sendiri dengan otomatis akan mengalami kesulitan untuk mendapatkan kredit baru karena pihak Pegadaian sebagai Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB) akan lebih selektif untuk kembali memberikan kredit kepada pelaku usaha.

Secara umum, kredit mikro di Pegadaian bisa macet karena beberapa faktor, antara lain kemampuan debitur membayar, kondisi ekonomi yang tidak kondusif, dan faktor internal di Pegadaian sendiri.

Salah satunya pertumbuhan kredit mikro di Pegadaian Cabang Purwakarta yang diakui tidak mengalami pertumbuhan yang terlalu siknifikan, berdasarkan uji petik dilapangan salah satu penyebabnya adalah pelaku usaha masih melemah. Pasca Covid 19 hingga saat ini pemulihanya masih belum menunjukan kemajuan.

Kondisi itu, menurut Pimpinan Cabang Pegadaian Purwakarta Firman Ferdiansyah, tentu sangat berdampak pada pertumbuhan kredit UMKM bisa melambat, risiko terjadinya kredit macet mengalami peningkatan, hal itu juga tentunya dapat mempengarui kepada pelaku usaha akan mengalami kesulitan mendapatkan kredit baru karena pihaknya akan lebih selektif untuk memberikan kredit baru.

Firman katakan, pada intinya mempertahankan kredit yang sehat jauh lebih penting ketimbang harus memberikan kredit baru bagi pelaku usaha yang tidak sehat yang nantinya beresiko pada kemacetan. Ia akui secara umum, kredit mikro di Pegadaian, seperti kredit mikro bisa macet karena beberapa faktor, antara lain kemampuan debitur membayar, kondisi ekonomi yang tidak kondusif.

“ Ya, untuk pertumbuhan kredit mikro ditahun 2024 sampai dengan bulan Mei 2025 tahun ini tidak terlalu siqnifikan, “ ujar Firman Ferdiansyah, Rabu ( 28/5/2025).

Ia merinci ditahun 2024 untuk kredit mikro sebesar Rp 17 milyar, dan itu masih sama pertumbuhanya per bulan Mei 2025 diangka Rp 17 milyar. Pada intinya Pegadaian Purwakarta masih mempertahankan kredit yang sehat, penyaluran tidak serta hanya fokus dicairkan. Tapi juga benar – benar dana ini dimanfaatkan untuk kegiatan usaha.

“ Kami lakuan uji petik, pelaku usaha melemah seperti sektor pakaian, textile agak menurun. Dan yang baik malah emas, rata -rata mengalami peningkatan 25 – 30 persen, “  jelasnya.

Bahkan untuk KUR ( Kredit Usaha Rakyat ) di tahun 2025 ini Pegadaian Cabang Purwakarta sendiri juga sudah melakukan lock atau pengkuncian, khususnya untuk kolektivitas karena sudah diambang batas, sebabnya tidak lancar.

“ Total pertumbuhan kredit mikro di tahun 2024 – 2025 kisaran 5 persen saja. Malah yang naik cukup lumayan dari pertumbuhan gadai, perbandingan ditahun 2024 sekitar Rp.112 milyar, untuk per Mei 2025 naik menjadi 125 milyar, “ pungkasnya.(ctr).