Pembangunan Pusat Data AI 640 MW di Jatiluhur Dimulai, Konsumsi Air Jadi Sorotan DPRD

PURWAKARTA — Pembangunan fasilitas pusat data berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) berkapasitas total 640 Megawatt (MW) resmi dimulai di kawasan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Peletakan batu pertama (groundbreaking) proyek bernilai investasi Rp3,5 triliun ini dihadiri langsung oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi bersama Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein pada Selasa (22/9/2026).

Fasilitas bernama AI Campus 2 atau CGK4 milik perusahaan BDx Data Centers ini berjarak sekitar 5 kilometer dari Bendungan Jatiluhur. Langkah strategis ini diproyeksikan mampu memperkuat infrastruktur digital nasional sekaligus menyerap hingga 3.000 tenaga kerja lokal secara bertahap.

Namun, di balik potensi ekonominya, proyek raksasa tersebut kini menuai sorotan tajam terkait besarnya volume kebutuhan air dan pasokan energi listrik yang akan digunakan.

Anggota Komisi V DPRD Jawa Barat, Maulana Yusuf Erwinsyah, meminta pemerintah daerah dan pihak pengembang bersikap transparan mengenai analisis dampak lingkungan (AMDAL), khususnya terkait besaran kebutuhan air untuk sistem pendingin fasilitas AI tersebut.

“Kami di Komisi V tentu gembira dengan penyerapan tenaga kerja di tengah maraknya PHK. Namun, apakah itu sebanding dengan efek lingkungan yang ditimbulkan? Pemerintah harus membuka ke publik perhitungan plus-minus data center AI ini,” ujar Maulana Yusuf dalam tanggapan resminya kepada media, Minggu (27/9/2026).

Maulana menegaskan, operasional pusat data berdensitas tinggi jangan sampai mengorbankan hak air bagi masyarakat luas dan sektor pertanian, mengingat Bendungan Jatiluhur merupakan sumber irigasi vital bagi ratusan ribu hektare sawah produktif di wilayah sekitarnya.

“Fungsi awal Waduk Jatiluhur adalah mengairi lebih dari 240.000 hektare lahan pertanian di Karawang, Subang, Bekasi, dan sekitarnya. Sesuai amanat UU Nomor 17 Tahun 2019 tentang Sumber Daya Air, hak atas air bagi petani harus tetap didahulukan,” tegasnya.

Menanggapi kekhawatiran tersebut, pihak pengembang menyatakan bahwa fasilitas CGK4 dirancang menggunakan teknologi mutakhir direct-to-chip liquid cooling. Sistem sirkulasi tertutup (closed-loop system) ini diklaim mampu meminimalkan penguapan, sehingga konsumsi kebutuhan air tambahan (make-up water) akan berada jauh di bawah data center konvensional.

Selain itu, pasokan daya utama sebesar 845 MVA yang bersumber dari PLN dipastikan memanfaatkan kesiapan jaringan energi terbarukan (listrik hijau) tanpa mengubah otoritas debit air yang dipegang penuh oleh Perum Jasa Tirta II.Pusat data lima lantai ini akan dikembangkan secara bertahap, dengan gedung pertama berkapasitas daya 120 MW ditargetkan mulai beroperasi penuh pada awal tahun 2027 mendatang.

(Put)