JAKARTA — Wilayah pesisir Indonesia sedang menghadapi tantangan alam yang berat dalam sepekan terakhir. Mulai dari fenomena cuaca ekstrem di pesisir selatan Jawa Barat hingga bencana tektonik bermagnitudo besar yang mengguncang kawasan Nusa Tenggara Timur (NTT). Dua peristiwa ini memicu kesiapsiagaan penuh dari pihak otoritas dan masyarakat setempat demi meminimalisasi dampak kerusakan.
Sejak Senin, 10 Agustus 2026, kawasan Pantai Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, diterjang gelombang laut tinggi yang mencapai 3,3 meter. Fenomena ini dipicu oleh pergerakan pola angin kuat di wilayah Indonesia bagian selatan yang bergerak dari timur hingga tenggara dengan kecepatan mencapai 8–25 knot.
Berdasarkan laporan Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Tasikmalaya, sedikitnya belasan perahu nelayan yang sedang bersandar di Dermaga Pamayangsari mengalami kerusakan ringan akibat saling berbenturan di area kolam tambat yang sempit.
Guna mengantisipasi korban jiwa, personel Polsek Cipatujah dan Satpolairud Polres Tasikmalaya melarang keras wisatawan mendekati garis pantai dalam radius 50 meter. Akibat cuaca ekstrem ini, sedikitnya 300 nelayan setempat berhenti melaut sementara waktu demi keselamatan jiwa.
Belum usai kewaspadaan terhadap gelombang pasang, bencana alam lain terjadi di timur Indonesia. Pada Sabtu pagi, 15 Agustus 2026 pukul 04.58 WIB, gempa bumi tektonik bermagnitudo M 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur. Pusat gempa (episentrum) dilaporkan berada di laut pada jarak 30 kilometer arah timur laut Mbay, Nagekeo, dengan kedalaman dangkal 15 kilometer.
BMKG menegaskan bahwa gempa bumi ini tidak berkaitan dengan zona megathrustinging, melainkan akibat dari pelepasan energi pada patahan aktif Sesar Naik Busur Belakang Flores (Flores Back-Arc Thrust). Struktur sesar ini membentang panjang di utara Pulau Flores dan memiliki catatan historis memicu gempa merusak serta tsunami besar pada tahun 1992.
Sesaat setelah guncangan hebat dirasakan hingga skala VI-VII MMI (membuat seluruh warga berlarian keluar rumah), warga di pesisir Flores sempat menyaksikan air laut surut drastis secara tidak wajar hingga menampakkan dasar laut. Fenomena ini memicu kepanikan massal, mendorong ribuan warga di Sikka, Nagekeo, hingga Labuan Bajo mengungsi ke area perbukitan dan dataran tinggi.
Berdasarkan data awal dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), bencana ini merenggut setidaknya 5 hingga 14 korban jiwa (mayoritas akibat tertimpa reruntuhan bangunan kontruksi yang roboh di Kabupaten Sikka dan Manggarai) serta menyebabkan puluhan warga luka-luka. Gempa juga merusak sejumlah fasilitas umum seperti Pelabuhan Maumere, Hotel Jayakarta Bajo, gudang Bulog, serta memicu longsoran material yang memutus akses jalan nasional.
BMKG sempat mengeluarkan Peringatan Dini Tsunami dengan status Siaga hingga Waspada. Tsunami minor terdeteksi di 10 lokasi berbeda, dengan hempasan gelombang tertinggi tercatat di Maurole, Ende setinggi 0,94 meter dan Bulukumba setinggi 0,54 meter.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga menghimbau masyarakat dan wisatawan untuk tetap menjauh dari garis pantai pesisir selatan Jawa Barat, mengingat potensi gelombang ekstrem dan fenomena pasang maksimum diperkirakan masih akan bertahan hingga pertengahan Agustus 2026.(put)



