KALIMANTAN, 20 Agustus 2026 – Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Pulau Kalimantan dilaporkan semakin meluas dan memasuki fase yang sangat mengkhawatirkan. Berdasarkan data satelit dan laporan badan penanggulangan bencana setempat, ribuan titik panas (hotspot) kini mengepung lima provinsi di Kalimantan, dengan wilayah Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan mencatat dampak terparah.
Kabut asap pekat sisa pembakaran lahan gambut mulai melumpuhkan aktivitas warga, menurunkan kualitas udara hingga level berbahaya, serta mengganggu jadwal penerbangan.
Di Pontianak, Kalimantan Barat, kualitas udara pada hari Kamis (20/8) tercatat sebagai yang terburuk di Indonesia dengan deteksi lebih dari 4.041 titik panas di wilayah tersebut. Sementara itu, di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, kadar polusi udara PM2.5 menembus angka 389,4 mikrogram per meter kubik, yang mengategorikannya sebagai wilayah dengan udara sangat berbahaya.
Dampak pekatnya kabut asap memaksa otoritas pendidikan mengambil tindakan tegas. Dinas Pendidikan Banjarbaru menginstruksikan jam masuk sekolah diundur menjadi pukul 09.00 WITA demi keselamatan siswa PAUD, SD, hingga SMP.
Di beberapa titik, seperti kawasan Sungai Tabuk, jarak pandang dilaporkan menyusut drastis hingga tersisa 1-2 meter saja. Para pengendara diimbau menyalakan lampu utama dan mengurangi kecepatan.
Di Kalimantan Tengah, Dinas Kesehatan mencatat lonjakan tajam warga yang terserang Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat paparan asap konstan.
Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, turun langsung meninjau lokasi kebakaran di Palangka Raya dan Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Beliau menegaskan bahwa pemerintah tidak akan tinggal diam dalam menghadapi bencana tahunan ini.
“Kami mengoptimalkan seluruh kekuatan, mulai dari operasi darat, helikopter water bombing, hingga Teknologi Modifikasi Cuaca untuk membuat hujan buatan. Jangan sampai ada ruang bagi pelaku pembakaran liar,” tegas Raja Juli Antoni di lokasi peninjauan.
Di sisi lain, tim Satgas Karhutla di lapangan mengeluhkan beratnya medan dan minimnya pasokan air akibat kemarau panjang yang melanda. Komandan Satgas Karhutla Daerah, Kolonel Inf. Ahmad Fauzi, menyatakan bahwa api di atas permukaan mungkin terlihat padam, tetapi api masih terus menjalar di bawah lahan gambut. Ia menambahkan bahwa pihaknya sangat kesulitan mencari sumber air terdekat karena embung dan sungai-sungai kecil di sekitar hutan sudah mengering.
Pihak kepolisian saat ini tengah bergerak melakukan investigasi mendalam. Penegakan hukum mulai diperketat karena kebakaran diduga kuat dipicu oleh aktivitas manusia yang sengaja membakar lahan untuk membuka perkebunan demi menghemat biaya. Saat ini, kepolisian dilaporkan sedang memeriksa sejumlah saksi dan oknum yang diduga terlibat dalam pembakaran ilegal tersebut.
Masyarakat yang berada di garda terdepan dampak kabut asap ini mulai menyuarakan keluhan mereka. Aktivitas sehari-hari terganggu dan kesehatan anak-anak menjadi taruhan utama.
“Anak saya yang paling kecil sekarang batuk-batuk terus dan badannya demam. Napasnya juga kedengaran sesak sejak dua hari lalu karena asap di dalam rumah sangat pekat,” keluh Rahmawati (34), seorang ibu rumah tangga di Banjarbaru.
Oleh karena itu pihak kepolisian menghimbau keras masyarakat di seluruh daratan Kalimantan untuk tidak membuang puntung rokok sembarangan, menghentikan total aktivitas pembakaran hutan, serta selalu menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan.(put)



