Terendus Gratifikasi, Andhi Pramono Akhirnya Ditetapkan Jadi Tersangka

TRANSJABAR.COM | Kepala Bea Cukai Makassar Andhi Pramono yang juga mantan Kepala Bea Cukai  Purwakarta, Jawa Barat akhirnya ditetapkan menjadi tersangka dalam dugaan kasus penerima gratifikasi oleh KPK  ( Komisi Pemberantasan Korupsi ) pada Senin ( 15/5/2023).

Penyidik KPK telah mengantongi sejumlah bukti terkait dugaan penerimaan gratifikasi yang diterima Andhi Pramono Kepala Bea Cukai Makassar dalam kasus tersebut.

” Ya benar ada dugaan peristiwa pidana terkait penerimaan gratifikasi yang dilakukan oleh salah seorang pejabat di Dirjen Bea dan Cukai Kemenkeu RI,” ungkap juru bicara KPK, Ali Fikri kepada wartawan, Senin (15/5/2023)

“Diperkuat pula dengan adanya kecukupan alat bukti sehingga KPK meningkatkan perkara dimaksud ke tahap penyidikan,” sambungnya.

Menurut  Ali, KPK berkoordinasi dengan Ditjen Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM mencegah Andhi Pramono bepergian ke luar negeri.

KPK mengajukan cegah pada pihak terkait dimaksud,” kata Fikri.

Menurut Ali, status cegah terhadap Andhi berlaku selama enam bulan sejak tanggal 12 Mei 2023.

Namun, pencegahan tersebut bisa diperpanjang sesuai kebutuhan penyidik.

KPK harapkan sikap kooperatif pihak yang dicegah tersebut agar tetap hadir ketika dipanggil tim penyidik,” ujarnya.

Merilis LHKPN 2021, Andhi Pramono melaporkan harta senilai Rp13,75 miliar

Dengan rincian gaji pokok pejabat setingkat dia adalah Rp. 3 juta – Rp5 juta ditambah dengan berbagai tunjangan sesuai Peraturan Presiden (Perpres) No. 156/2014 tentang Tunjangan Kinerja Pegawai di Lingkungan Kementerian Keuangan

Dalam catatan LHKPN yang dilaporkan Andhi mencatatkan kepemilikan 15 bidang tanah dan bangunan di berbagai lokasi, seperti Salatiga, Batam, Bogor, Bekasi, dan Jakarta.

Dengan nilai total berupa tanah dan bangunan miliknya mencapai Rp. 6,98 miliar. Andhi juga melaporkan 13 kendaraan, yakni empat unit motor dan sembilan unit mobil senilai Rp1,84 miliar.

Termasuk Andhi juga melaporkan harta bergerak lainnya senilai Rp706,5 juta, surat berharga Rp2,9 miliar, serta kas dan setara kasnya Rp1,2 miliar.(Erna ).