Rumah Kultural dari Dedi Mulyadi untuk Janda Tua di Tasikmalaya

ASIK naik atap Dedi Mulyadi nurunin genteng rumah milik Mak Jua. Foto: Catur Azi/ transjabar

transjabar_ Mak Jua (97) sedang termenung di depan rumahnya yang hampir roboh. Lamunannya seketika pecah karena kedatangan Ketua DPD Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi. Pria yang lekat dengan iket Sunda itu mengetahui kondisi rumah Mak Jua melalui jejaring sosial Facebook.

Cucu Mak Jua, Nikki (20) menjadi teman setia nenek renta itu di rumahnya. Ibunda Nikki meninggal 10 tahun lalu saat sedang memasak di dapur. Karena Nikki tidak bekerja, mereka berdua hanya mengandalkan belas kasih tetangga untuk makan sehari-hari.

“Begini aja sehari-hari mah nak, diam di depan rumah. Kalau ada tetangga yang ngasih ya bisa makan. Kalau tidak, ya puasa saja nak,” kata Mak Jua yang merupakan warga Kampung Babakan Jeruk. Tepatnya, Desa Lengkong Jaya, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya, Sabtu, (28/7/2018).

Bilik rumah Mak Jua sudah tampak menghitam. Hal ini karena anyaman bambu itu sudah tidak bisa menahan cuaca dingin dan panas yang silih berganti. Kayu penyangga rumah nenek itu pun sudah lapuk dimakan rayap.

Selain itu, atap rumah berukuran 15×8 meter itu menghamburkan debu saat tertiup angin. Hal ini menandakan bahwa susunan bambu penopang atap sudah sangat lapuk. Rumah tersebut, kapan pun bisa roboh.

“Kondisinya seperti yang kita lihat ini. Kami berusaha mencari donatur kemana-mana. Pihak pemerintahan pun kami coba untuk koordinasi. Hanya saja, belum ada tanggapan apalagi tindak lanjut,” kata Nanang (38), tetangga Mak Jua.

Tanpa banyak berkomentar, Ketua DPD Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi minta disediakan banyak tangga. Dia kemudian mengajak semua tetangga Mak Jua untuk membongkar rumah tersebut.

“Mak, rumahnya saya bongkar bareng-bareng ya. Pokoknya nanti jadi bagus. Ini ‘rumah kultural’ buat emak,” katanya yang dijawab anggukan oleh nenek tua tersebut.

Tipe Panggung Multi Fungsi

Rumah kultural yang dimaksud mantan Bupati Purwakarta tersebut adalah rumah panggung. Tipe rumah seperti ini merupakan arsitektur khas masyarakat Sunda terutama di daerah priangan. Dedi Mulyadi sempat menjelaskan alasan orang terdahulu membangun rumah seperti ini.

“Rumah panggung itu multi fungsi, tahan gempa dan anti banjir. Kemudian, sirkulasi udaranya juga lebih bermanfaat untuk kesehatan karena tidak pengap,” katanya.

Selain itu, bagian kolong rumah panggung dapat difungsikan untuk kandang ternak. Menurut Dedi, memelihara ternak merupakan kebiasaan yang tidak pernah ditinggalkan orang-orang terdahulu.

“Dampanya, rumah memiliki nilai tambah. Ada aktivitas ekonomi dengan memelihara ternak. Ini kearifan orang tua kita dahulu yang perlahan mulai hilang. Tugas kita adalah menghidupkannya kembali,” ucapnya. (ctr).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *