Pesan Kemerdekaan dari Dedi Mulyadi, Bebaskan Bangsa Indonesia dari Rasa Takut

Foto : Catur Azi/transjabar

transjabar_PURWAKARTA – Budayawan Jawa Barat Dedi Mulyadi merefleksi kemerdekaan Indonesia dengan pesan pembebasan. Menurut dia, bangsa Indonesia harus dibebaskan dari segala bentuk rasa takut.

Hal itu disampaikan Mantan Bupati Purwakarta itu usai mengikuti upacara penaikan bendera. Tepatnya di Lapang Cihideung, Desa Pasawahan, Kecamatan Pasawahan, Purwakarta, Jum’at (17/8/2018).

“Pesan kemerdekaan itu pembebasan warga bangsa dari segenap rasa takut. Rasa takut itu banyak kan, rasa takut tidak makan, rasa takut tidak bisa menyekolahkan anak. Kemudian, rasa takut sawahnya tidak teraliri air,” katanya.

Jenis rasa takut tersebut hari ini masih dialami warga bangsa. Dedi mencontohkan para orang tua sering mengalami ketakutan anaknya tidak bisa bersekolah di sekolah negeri. Menurut dia, negara harus hadir dengan memberikan regulasi demi kesinambungan penyelenggaraan pendidikan.

“Seluruh perangkat kebutuhan warga mulai dari kebutuhan pendidikan, irigasi dan infrastruktur harus disiapkan negara. Selain itu, kebutuhan keamanan dan kebebasan menyatakan pendapat juga membutuhkan kehadiran negara,” ujarnya.

Menurut Dedi, Indonesia akan semakin kuat jika kebutuhan warga bangsanya terpenuhi dengan baik. Kata dia, seluruh stakeholder bangsa harus bahu membahu memastikan kebutuhan itu terpenuhi.

“Indonesia akan kuat dan menjadi negara maju. Tentu, ini membutuhkan kesadaran stakeholder bangsa untuk menjawab berbagai persoalan,” katanya.

Benteng dari Invasi Asing

Seluruh kekuatan bangsa menurut Dedi dapat menjadi benteng invasi asing. Dia menjelaskan, invasi tersebut berupa serangan kebudayaan, ekonomi dan politik.

“Sejak dulu musuh kita itu asing, mereka sejak lama mendominasi gerak kebangsaan kita. Mereka menyerang melalui kebudayaan, melalui ekonomi dan melalui politik. Nah, bangsa kita harus waspada menghadapi itu semua,” ujarnya.

Akhir-akhir ini, kata Dedi, dia menemukan fenomena yang justru terbalik. Sesama anak bangsa dibuat saling curiga. Sementara, kecurigaan tersebut tidak dia temukan saat menghadapi bangsa lain.

“Jangan kebalik-balik. Ini kita sesama anak bangsa kok saling curiga, sesama kampung dan tanah kelahiran saling berkelahi. Kemudian, kita tersenyum lebar saat menghadapi bangsa lain,” katanya.

Himpitan kebutuhan ekonomi menurut Dedi, memaksa anak bangsa untuk menjual tanah. Jika dibiarkan, hal ini akan mengakibatkan bangsa Indonesia kehilangan kedaulatan atas tanahnya sendiri.

“Kalau rakyat kita tidak punya sawah untuk bertani dan berladang, nanti integritas bangsa kita dimana?. Semua ini harus dipikirkan dengan baik. Lihat film Amerika, saya sering nonton, itu cara mereka membangun kesadaran kebangsaan yang kuat,” ucapnya. (ctr).