Pangsi Sunda Milenial ala Dedi Mulyadi dan Gayanya yang Anti Protokoler

Dedi Mulyadi

transjabar_ PURWAKARTA – Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi saat ini sudah tidak didampingi para walprinya. Pasalnya, selain tidak lagi menjabat sebagai Bupati Purwakarta, dirinya juga belum beruntung dalam kontestasi Pilgub Jabar.

Menariknya, cara berbusana kader Nahdlatul Ulama tersebut terbilang khas. Dia kerap tampil mengenakan baju pangsi khas Sunda dengan sentuhan milenial. Selain itu, iket putihnya menjadi ciri khas sejak dia menjabat sebagai Wakil Bupati Purwakarta Tahun 2003.

Gaya berpakaian Dedi Mulyadi menjadi sorotan pemerhati fesyen Purwakarta, Dahlia Rineva. Menurutnya, pangsi yang dikenakan Dedi memiliki diferensiasi dengan pangsi Sunda pada umumnya.

“Sepintas akan terlihat seperti baju pangsi biasa. Tetapi, kalau kita telaah tekstur bahan dan desainnya itu jelas berbeda. Bahannya semi kasar tetapi tidak terkesan murahan, tetap berkelas,” katanya, di Purwakarta, Selasa (17/6/2018).

Menurut Dahlia, gaya Dedi Mulyadi sudah menjadi tren di berbagai daerah. Khususnya, di wilayah Purwasuka dan Priangan Timur. Fenomena ini membuktikan bahwa orang Jawa Barat terbuka untuk inovasi fesyen yang selama ini menjadi ciri khasnya.

“Kalau dipandang tampak cerah dan nyaman di mata. Beberapa desainnya kalau dilihat pangsi Kang Dedi itu mirip gamis milik T’Challa dari film Black Panther,” ujarnya.

Bedanya, gamis T’Challa berbentuk panjang sementara baju Dedi Mulyadi berbentuk pangsi biasa. Ornamen milenial dalam pangsi tersebut menyedot perhatian warga sehingga diikuti sebagai model fesyen baru.

“Jarang kita temukan ada tokoh publik politisi yang gaya berpakaiannya diikuti warga,” ucapnya.

Saat dikonfirmasi, Dedi Mulyadi pun angkat bicara. Dia menjelaskan bahwa baju pangsi milenial tersebut dibuat langsung sang istri. Dedi memilih bahan dan menentukan desain. Sementara sang istri yang menjahit.

“Saya minta bantuan istri untuk menjahit. Saya pilih bahan dan bikin desain. Alhamdulillah, cocok dan nyaman hasilnya seperti ini,” singkatnya.

Dedi menginginkan agar kesan kampungan tidak lagi tersemat pada pengguna pakaian pangsi. Karena itu, dia menambahkan ornamen milenial dalam baju pangsinya tersebut.

“Kata orang Jawa Barat mah harus miindung ka waktu mibapa ka zaman. Ada cara-cara adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman tanpa menggerus kultur kita. Saya melakukannya dan alhamdulillah mendapat respon baik,” katanya.

Jadwal Super Fleksibel

Pangsi tersebut digunakan Dedi Mulyadi untuk menghadiri berbagai acara. Uniknya, selama menjadi Bupati Purwakarta dan bertarung di Pilgub Jabar, dia tidak pernah menjadikan jadwal sebagai panduan.

Budayawan Sunda itu cenderung sangat fleksibel untuk menghadiri sebuah acara. Bahkan, undangan via pesan singkat sering mendadak dia hadiri meskipun tidak terjadwal sebelumnya.

“Bapak mah fleksibel sekali. Beliau tidak pernah pilih-pilih, ada undangan masuk WA ya langsung hadir. Padahal, di jadwal itu tidak ada. Kalau di jalan seringnya mampir di warung lotek atau karedok,” ujar sopir Dedi Mulyadi yang enggan disebutkan namanya.

Lepas dari kawalan walpri membuat Dedi kian bebas menemui masyarakat. Terlebih, dia sudah berkomitmen mengabdikan dirinya untuk rakyat Jawa Barat meski tanpa menyandang jabatan publik.

“Kalau di mobil kan sering ngobrol. Beliau pernah bilang, ada atau tidaknya jabatan itu bukan ukuran berbuat baik. Jadi, jalan terus saja. Saya terus terang terharu mendengar itu,” katanya. (ctr).