Hadiri Upacara Bendera bersama Warga, Dedi Mulyadi Teringat Masa Sekolah

Foto: Catur Azi/transjabar

transjabar_ PURWAKARTA – Budayawan Jawa Barat Dedi Mulyadi menghadiri undangan upacara peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia ke 73 bersama warga. Dia hadir di Lapang Cihideung, Desa Pasawahan, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Purwakarta, pada Jum’at (17/8/2018) pagi.

Mantan Bupati Purwakarta itu mengikuti upacara dengan semeringah. Pasalnya, dirinya kini bebas dari aturan protokoler yang selama 10 tahun terakhir harus dipatuhinya. Dedi tampil resmi tapi santai dengan mengenakan pakaian batik dan kacamata hitam khas Bung Karno.

“Saya sebagai warga biasa kini mengikuti upacara di desa. Ini luar biasa bagi saya. Karena biasanya momen agustusan itu paling melelahkan bagi saya karena harus pakai baju PDUB yang tebal itu. Hari ini gak gerah karena saya pakai batik,” katanya di lokasi upacara.

Sejak Presiden Joko Widodo memimpin Indonesia, Ketua DPD Golkar Jabar itu merasakan perubahan. Upacara bendera menjadi momen menghayati khazanah kebudayaan bangsa karena peserta mengenakan pakaian adat.

“Umumnya kini batik ya. Itu lebih membumi memang dibanding pakaian formal,” ujarnya.

Kehadiran Dedi di lokasi tersebut menyedot perhatian warga sekitar. Mereka berebut untuk berswafoto bersama pemimpin yang menciptakan banyak ‘legacy’ untuk Purwakarta itu.

“Sempat tadi minta foto, lumayan dapat dua kali,” kata Nurul (27), warga Desa Pasawahan Kidul.

Saat Jadi Petugas Upacara

Momen upacara bendera bersama warga mengingatkan Dedi Mulyadi pada masa-masa sekolah. Menurut dia, dirinya kerap diamahani menjadi petugas upacara di tingkat kecamatan.

“Setiap tujuh belasan itu saya selalu mendapat kesempatan mengibarkan bendera di tingkat kecamatan. Saya ‘nineung’ istilahnya, selalu ingat momen sakral itu,” ucapnya.

Usai mengikuti upacara bendera, Dedi berencana mengikuti berbagai perlombaan. Berbagai perlombaan diketahui biasa disiapkan warga masyarakat untuk memperingati momen kemerdekaan.

“Kalau di kampung itu sudah biasa ya. Saya juga nanti ikut lomba masukan belut ke botol. Kemudian, lomba membawa kelereng dengan sendok, banyak sih kalau di kampung,” tuturnya.

Jenis lomba tersebut juga menjadi pengingat masa kecil Dedi. Dia berasal dari keluarga sederhana dan kerap mengalami kegembiraan luar biasa saat mengikuti lomba.

“Kalau dulu hadiahnya itu buku tulis, pena dan uang jajan. Sekarang sepertinya sama juga, anak-anak pasti senang,” katanya. (ctr).