Gubrak!!! Gubuk Bambu Milik Warga Karawang Roboh, Dedi Mulyadi Jadi Pelaku Utam

Foto : Catur Azi/ transjabar

transjabar_ KARAWANG- Keriuhan tepuk tangan menyambut robohnya sebuah gubuk milik seorang warga Kabupaten Karawang. Tepatnya, di Desa Dayeuh Luhur, Kecamatan Tempuran. Ade (50) merupakan pemilik gubuk yang berukuran 6×8 meter tersebut.

Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi merupakan pelaku utama perobohan gubuk tersebut. Awal mula, dirinya mendapatkan laporan bahwa terdapat sebuah gubuk tidak layak huni di lokasi tersebut.

“Saya diberi tahu seorang teman. Katanya, di sini ada gubuk mau roboh. Saya cek ternyata benar. Selama ini saya sengaja membuka keran keluhan soal rumah tidak layak huni. Kita bantu setelah kita cek bareng-bareng,” kata Dedi, Minggu (22/7/2018) sore.

Usai berbincang ringan dengan Ade, Dedi Mulyadi meminta bantuan warga sekitar. Tujuannya, agar gubuk tersebut segera dirobohkan untuk dibangun menjadi rumah layak huni.

“Ayo bapak-bapak, bantu robohkan. Ibu-ibu bantu bereskan barang-barang Pak Ade. Kita bangun kembali rumahnya biar nyaman untuk beliau dan keluarga,” katanya.

Berdasarkan pantauan, rumah tersebut memang berada dalam kondisi memprihatinkan. Tidak ada jendela untuk ventilasi udara. Rumah bertiang rapuh itu juga tidak memiliki MCK dan hanya berdinding anyaman bambu.

Tidak butuh waktu lama untuk menunggu warga berkumpul. Mereka berduyun-duyun dan beberapa di antaranya tampak membawa tangga. Suara ‘gubrak’ terdengar bersamaan dengan robohnya gubuk tersebut.

Tukang Bangunan

Sehari-hari, pemilik gubuk, Ade (50) hanya berprofesi sebagai tukang bangunan. Jumlah penghasilan yang pas-pasan menjadikan dia tidak mampu membangun rumah permanen. Uang sebesar Rp30 ribu per hari itupun jika bekerja hanya cukup untuk makan.

“Bisa makan saja sudah bersyukur. Beruntung sekarang rumahnya diperbaiki Kang Dedi. Saya terima kasih sekali kepada beliau,” ucapnya.

Suami dari Karsionah (48) itu juga menjelaskan perihal keadaan anak-anaknya. Dia memiliki 4 orang anak. Dua di antaranya sudah menikah, satu orang bekerja di sebuah konveksi. Sementara si bungsu masih duduk di Kelas 2 SD.

Selain dengan anak bungsu, pertemuan dirinya dengan anak yang lain terbilang langka. Akan tetapi dia bersyukur, anak bungsunya rajin membantu pekerjaan ibunya sehari-hari.

“Alhamdulillah ini si bungsu rajin,” katanya. (ctr).