Dedi Mulyadi : Tak Ada Berkah di Pilpres 2019 untuk Partai Golkar

Dedi Mulyadi; Foto/transjabar

transjabar_ PURWAKARTA – Ketua DPD Partai Golkar Jabar Dedi Mulyadi mengatakan Pilpres 2019 tidak melahirkan berkah apapun bagi Partai Golkar. Pasalnya, partai berlambang pohon beringin tersebut tidak mendapatkan insentif elektoral dari pasangan yang didukung.

Partai Golkar telah memutuskan untuk bergabung dengan koalisi pengusung petahana. Pasangan Jokowi-Ma’ruf akan bertarung dengan pasangan Prabowo-Sandi di Pilpres 2019 mendatang.

“Kalau Golkar masuk antrean di pilpres, itu gak akan dapat apa-apa. Golkar tidak mendapatkan berkah pilpres karena tidak ada insentif elektoral yang didapat,” kata Dedi, di kediamannya. Tepatnya di Desa Sawah Kulon, Kecamatan Pasawahan, Purwakarta, Senin (27/8/2018).

Menurut Dedi, fokus Golkar harus beralih pada teknis peningkatan elektabilitas. Berdasarkan hasil survei Alvara Research Center, tren elektabilitas Golkar terus menurun. Kondisi ini menurut dia, harus diwaspadai seluruh stakeholder partai.

Berdasarkan survei tersebut, Golkar mengalami penurunan elektabilitas sejak Mei 2018 lalu. Saat itu, elektabilitas partai besutan Airlangga Hartarto itu berada di kisaran 8,9%. Angka tersebut menurun tipis pada bulan Juli 2018 ke angka 8,8%.

Kondisinya kian parah saat memasuki bulan Agustus 2018 dan merosot tajam ke angka 7,8%. Dedi menengarai fenomena penurunan ini akibat Golkar terlalu berkutat pada isu Pilpres 2019.

“Hemat saya, kita tidak bisa terus menerus mengandalkan insentif elektoral pilpres. Antrean insentifnya terlalu panjang. Sebelum insentif elektoral PDIP penuh, Golkar tidak akan terisi,” ujarnya.

Dinamika Pasca Pilpres

Mantan Bupati Purwakarta dua periode tersebut juga mengingatkan stakeholder Golkar tentang dinamika pasca pilpres. Menurut dia, jika Golkar berada di posisi ketiga pileg dan pasangan Jokowi-Ma’ruf menang, tentu akan sulit.

Pasalnya posisi tawar Golkar akan kalah oleh Gerindra yang berada di posisi kedua menurut survei Alvara. Apalagi, jika Gerindra membuka opsi menjadi partai pendukung pemerintahan Jokowi untuk periode kedua pasca pilpres.

“Golkar akan sulit kalau itu terjadi. Posisi tawar Gerindra lebih besar karena partai pemenang kedua,” ucapnya.

Karena itu, Dedi berharap elit DPP Golkar segera menyiapkan formula khusus selain Pilpres. Golkar menurut dia, harus hadir memberikan solusi atas persoalan yang tengah mendera anak bangsa.

“Cari cara lain, cari jalan lain. Golkar harus tampil sebagai partai solutif untuk bangsa,” katanya. (ctr).