Dedi Mulyadi : Jawa Barat Butuh Jokowi untuk Konektivitas Infrastruktur

transjabar_ BANDUNG – aKetua Tim Pemenangan Jokowi-Ma’ruf Jawa Barat Dedi Mulyadi mengatakan sosok Jokowi sangat dibutuhkan oleh rakyat Jawa Barat. Pasalnya, Mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut sangat fenomenal dalam pembangunan infrastruktur.

Jawa Barat sendiri memiliki wilayah yang sangat luas. Luas wilayah tersebut berbanding lurus dengan jumlah penduduk juga calon pemilih yang merupakan paling besar di Indonesia.

Pertimbangan tersebut, kata Dedi, menjadi dasar rakyat Jawa Barat untuk memilih Jokowi agar memimpin Indonesia satu kali lagi.

“Jawa Barat membutuhkan Pak Jokowi untuk mewujudkan konektivitas wilayah. Ini daerah luas sekali, satu sama lain harus terkoneksi. Nah, caranya yaitu dengan membangun infrastruktur yang terkoneksi pula,” kata Dedi dalam sebuah acara. Tepatnya, di Hotel Grand Pasundan, Kota Bandung, Rabu (26/9/2018).

Menurut Dedi, pembangunan infrastruktur sangat dibutuhkan untuk menunjang mobilitas ekonomi. Arus distribusi barang dan jasa menurut dia akan lebih mudah dilakukan jika ditopang infrastruktur yang bonafid.

Selain itu, mobilitas manusia berlangsung secara cepat. Apalagi, era millenial menuntut publik untuk bertindak cepat, cermat dan terarah.

“Keuntungan pembangunan infrastruktur itu ada dua. Pertama arus barang dan jasa, kemudian yang kedua mobilitas manusia menjadi lebih cepat. Keduanya melahirkan profit dan benefit ekonomi secara langsung. Output-nya, kesejahteraan yang merata,” ujarnya.

Mantan Bupati Purwakarta tersebut mengalami sendiri efek domino yang dihasilkan dari pembangunan infrastruktur. Saat menjabat sebagai bupati, dirinya juga fokus terhadap jenis pembangunan tersebut. Hasilnya, sektor lain seperti pariwisata ikut terdongkrak.

“Pengaruhnya bukan saja item tadi. Nanti, sektor pariwisata akan ikut mendapatkan manfaat. Bagaimana wisatawan mau datang kalau infrastruktur kita gak bagus?, tuturnya.

Konektivitas Desa

Santri Kiai Ma’ruf Amin itu juga menegaskan, konektivitas infrastruktur juga dibutuhkan sampai ke tingkat desa. Dana desa selama ini menjadi andalan pemerintah pusat untuk melakukan pembangunan pedesaan harus terus dimaksimalkan.

Melalui cara ini, satu desa dengan desa lain tidak akan saling berkompetisi, melainkan saling melengkapi. Sebab, ada pertukaran potensi dan produk unggulan dari masing-masing desa tersebut.

“Kiai Ma’ruf menyampaikan konsep ekonomi Pancasila. Sebuah cara berekonomi yang tidak saling membunuh, tetapi saling menguatkan. Cermin pola ekonomi seperti itu ada di desa. Ada pertukaran hasil bumi dari satu desa dengan desa lain. Itu terjadi di pasar desa atau kecamatan, dan itu buah infrastruktur yang bagus,” katanya.

Logika-logika aneh menurut Dedi kini menghiasi komentar yang tersemat di balik kemajuan pembangunan infrastruktur. Logika tersebut menurut dia harus diluruskan agar tidak menimbulkan sesat pikir masyarakat.

“Rakyat memang tidak makan infrastruktur, tapi rakyat butuh infrastruktur untuk makan,” tuturnya. (ctr).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *