Bimtek Golkar Jabar Tiba-Tiba Terhenti, Dedi Mulyadi ‘Ngencleng’ Donasi untuk Korban Tsunami

 

Trans Jabar.com, BANDUNG – DPD Partai Golkar Jawa Barat menggelar kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) untuk para calon anggota legislatif. Kegiatan tersebut digelar di Kantor DPD Golkar Jawa Barat. Tepatnya di Jalan Maskumambang No 02, Kota Bandung, Senin (1/10/2018).

Para caleg tersebut menerima pengarahan langsung dari Ketua DPD Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi. Fokus para peserta terhadap materi yang tengah dia sampaikan terpecah. Pasalnya, Mantan Bupati Purwakarta itu tiba-tiba menghentikan acara dan membuka jaket hitam yang dia kenakan.

Dedi Mulyadi menghampiri tempat duduk para peserta satu per satu sambil membuka lebar jaketnya. Dia meminta seluruh kader untuk menunjukan rasa empati kepada para korban gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah.

Rasa empati itu ditunjukan para kader dengan mengisi jaket yang sudah terbuka itu dengan lembaran uang pecahan Rp100 ribu. Terlihat ada kader yang menyerahkan dua lembar, tiga lembar bahkan ada yang sampai sepuluh lembar.

“Mohon maaf saya hentikan. Kita doakan saudara kita di Sulawesi Tengah yang sedang didera bencana. Semoga mereka tabah dan sabar menghadapi ujian ini,” kata Dedi sebelum berkeliling ruangan.

Terminologi orang Jawa Barat menyebut langkah seperti yang Dedi lakukan dengan istilah ‘ngencleng’. Istilah ini biasa diperuntukan bagi aktivitas penggalangan dana yang dilakukan secara spontan namun tepat sasaran.

Menurut Dedi, kader Golkar sebagai bagian dari anak bangsa Indonesia harus menanamkan kepekaan terhadap sesama. Hal ini penting terutama bagi para caleg. Mereka kelak jika terpilih akan memiliki konstituen yang harus dilayani sehari-hari.

“Hidup seorang kader di mana pun berada harus diisi dengan rasa empati kepada sesama. Walaupun dengan segala keterbatasan, kader berkewajiban memberikan bantuan,” katanya.

Uang sebesar Rp100 Juta berhasil dikumpulkan hanya dalam waktu 30 menit. DPD Golkar Jabar menggenapkan jumlah tersebut menjadi Rp200 Juta yang berasal dari sumbangan pengurus dan fraksi.

“Alhamdulillah ada Rp100 Juta, kita genapkan menjadi Rp200 Juta,” ucapnya.

Berdasarkan keterangan Dedi, seluruh dana tersebut akan dia distribusikan secara langsung kepada korban gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah. Penyerahan dana secara langsung pernah dia lakukan saat mengunjungi korban bencana gempa di Lombok, NTB.

“Dulu pernah ke Lombok. Insya Allah saya bisa jalan ke Palu kalau kondisi di sana sudah stabil. Kita serahkan dalam bentuk barang yang memiliki tingkat keterdesakan untuk dipenuhi,” ujarnya.

Jaga Perasaan Keluarga Korban

Peristiwa gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah terjadi pada Jum’at (28/9/2018) lalu. Bencana tersebut langsung meramaikan jagad sosial media dengan berbagai tagar yang menjadi trending topik.

Media mainstream pun banyak mengutip data dari akun-akun sosial media yang memposting situasi saat itu.

Menurut Dedi, bantuan langsung ke lokasi bencana saat ini lebih dibutuhkan. Karena itu, dia mengimbau semua pihak agar tidak mendramatisir kejadian tersebut. Perasaan keluarga korban, kata Dedi, sangat patut untuk mendapatkan kepedulian.

“Tidak perlu didramatisir. Kasian masyarakat yang menjadi korban, mereka butuh bantuan dan harapan baru untuk bangkit dari keterpurukan. Kalau tidak bisa mengucapkan doa, paling tidak jaga ucapan jangan sampai menyakitkan,” katanya.

Integrasi corong informasi, menurut Dedi, penting dilakukan. Hal ini melihat kerentanan masyarakat netizen Indonesia terhadap informasi yang kurang akurat dan cenderung hoax. Implikasinya, timbul keresahan baru di tengah masyarakat.

“Biarkan lembaga kapabel yang menjadi corong informasi. Ada BNPB, TNI dan POLRI. Secara analisa ada BMKG dan LIPI. Nah, di luar lembaga itu jangan menjelaskan hal yang di luar nalar. Ini penting sebagai integrasi corong,” tuturnya. (ctr).