Terungkap, Skenario Siswi SMP Negeri 1 Cikampek Pakai Sandal Jepit

Karawang|Transjabar.com – Viralnya seorang siswi kelas 7 SMP Negeri 1 Cikampek, Kabupaten Karawang ke sekolah memakai sandal jepit di bully atau korban perundungan teman – temannya yang ditayangkan di Youtube Kompas TV Jabar (30/9/2021), ternyata hanya sinetron kebohongan belaka.

Hal itu terungkap setelah pihak sekolah mengklarifikasi kepada orang tua siswa itu yang mengaku anaknya sering dibully tersebut, mengatakan dirinya melakukan kegaduhan itu atas suruhan orang lain.

Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Cikampek Toib, S.Pd.M.M. menyatakan, berdasarkan laporan guru Kesiswaan sejak dimulai Pembelajaran Tatap Muka atau PTM kelas 7 dari hari Senin, Selasa dan Rabu (27,28/29/9/2021) siswi itu sekolah memakai sepatu.

“Itu semua ada buktinya dari layar CCTV sekolah,”ujarnya kepada media.

Dia pun memastikan, di lingkungan sekolahnya terutama siswa – siswi tidak ada saling membully atau perundungan.

“Ketika itu hari Kamis (30 /9/2021) temannya hanya bertanya, kok hari ini pakai sandal, begitu aja. Pihak sekolah dipastikan sangat toleran terhadap siswa-siswi mau pakai seragam atau tidak bahkan pakai sandal pun tidak jadi masalah. Apalagi ini kan masih kondisi pandemi dan PTM terbatas,”terangnya.

Lebih lanjut, Toib pun berujar, orang tua murid dan anaknya itu ternyata mengakui mendapatkan bantuan dari pemerintah yakni PKH dan PIP untuk meringankan keperluan sekolah.

” Itu atas pengakuan orang tuanya (Komala) kepada kami,” jelasnya.

Terkait biaya baju seragam sekolah, dia juga menjelaskan, pihak sekolah kepada orang tua murid memberikan kelonggaran dalam pembiayaan itu.

Menurutnya, terkait pemberitaan biaya baju seragam sekolah yang memberatkan orang tua murid ekonomi lemah itu, terlalu dibesar-besarkan.

“Kan ada grup WA wali kelas, orang tua murid dan peserta didik. Tinggal berkoordinasi saja dengan pihak sekolah, kami toleransi kok,” ucapnya.

Pasca viralnya sinetron kebohongan tersebut, esok harinya (1/10/2021) pihak sekolah mendatangi rumah orang tua dan siswi itu untuk bersilaturahmi disertai memberikan kekurangan seragam sekolah.

” Sudah kami berikan batik sekolah, batik Karawang dan kaos olah raga bahkan cicilannya pun dikembalikan kepada orang tuanya,” imbuhnya.

Padahal dia mengatakan, sekolah tengah mengadakan program roots anti perundungan yang merupakan salah satu program di dalam sekolah penggerak.

” Supaya anak – anak belajar nyaman, tidak tertekan, semua anak – anak harus merdeka belajar, kata Mendikbud begitu,” imbuhnya. (dd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *