Digugat 10 milyar, Kasus Cakades Klapanunggal Berlanjut Ke Meja Hijau

Bogor|Transjabar.com – Kasus Calon Kepala Desa (Cakades) Klapanunggal berinisial AES kembali bergulir. Tim kuasa hukum dari istri Alm. DR.H.TB. Munir Sasmita membuktikan keseriusannya dengan mengajukan gugatan di Pengadilan Negeri Cibinong Kabupaten Bogor atas dugaan perbuatan melawan hukum.

Pasca dilayangkannya somasi ke-III (peringatan ketiga) oleh tim kuasa hukum dari kantor hukum Sembilan Bintang kepada AES, tanggal 08 Desember 2020. Tim kuasa hukum menyatakan keseriusannya melalui gugatan ke Pengadilan Negeri Cibinong. Tidak main-main nominal yang dicantumkan dalam ganti rugi yang diajukan tim kuasa hukum sebesar Rp.10.000.000.001 kepada AES selaku Tergugat.

“Jika somasi sudah tidak di indahkan AES, maka kami akan buktikan keseriusan dari isi bunyi somasi tersebut dengan melanjutkan ke tahap proses hukum yakni melalui gugatan di pengadilan sebagaimana gugatan yang telah teregistrasi nomor 26/Pdt.G.S/2020 PN Cbi tertanggal 11 Desember 2020,” ujar Anggi Triana Ismail selaku kuasa hukum keluarga TB. Munir Sasmita.

Menurut Anggi, sejauh ini pihaknya sudah memperingatkan melalui somasi, namun pihak AES terkesan mengabaikannya. Seolah tidak mengerti hukum dengan mendiamkan bunyi somasinya.

“Dari awal pihak keluarga yakni istri sah dari Alm. DR. H. TB. Munir Sasmita telah berbesar hati untuk membuka ruang melalui jalur kekeluargaan. Namun, niatan baik dari klien kami justru diacuhkan AES. Dan kami cukup bersabar dalam upaya penyelesaian permasalahan ini,” tegasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, terjadinya kasus ini bermula dari adanya dugaan penyerangan sambil membawa senjata tajam yang dilakukan GS (klien kami) yang sekarang telah di proses di Polres Bogor. Namun perlu didalami juga kebenarannya, mengingat ada opini yang menyatakan sampai ramai menjadi framing berita seolah kliennya melakukan dugaan pidana yang berdiri sendiri.

“Ini bahaya, apalagi harus menjadi konsumsi publik. Bukankah, dalam teori pidana sebuah tindak pidana dibangun atas dua unsur penting yaitu unsur objektif/physical yaitu actus reus (perbuatan yang melanggar undang-undang pidana) dan unsur subjektif/mental yakni mens rea (sikap batin pelaku ketika melakukan tindak pidana),” terang Anggi.

Karena itu, sambungnya, perlu dilihat perbuatan dari kliennya ini atas datang ke kediaman AES, sebab tujuannya juga ingin mengklarifikasi atas dugaan muatan penghinaan atau pencemaran terhadap ayah kandungnya didalam orasi politiknya.

Disisi lain, ada ajaran kausalitas yaitu ajaran tentang sebab akibat. Untuk delik materil permasalahan sebab akibat menjadi sangat penting. Dimana, kausalitas berlaku ketika suatu peraturan pidana tidak berbicara tentang perbuatan atau tindak pidananya (yang dilakukan dengan sengaja). Tapi menekankan pada hubungan antara kesalahan atau ketidaksengajaan (culpa) dengan akibat.

“Sekali lagi perlu kita dalami perihal kasus yang sudah menyita perhatian publik ini.
Perbuatan GS didasari karena adanya terlebih dahulu mendapatkan sebaran video yang berdurasi kurang lebih 50 detik. Dalam video tersebut AES dalam kampanye politiknya diduga keras telah menghina dan menyerang kehormatan Alm. DR. H. TB. Munir Sasmita, sehingga GS mendatangi kediaman AES. Jadi, jangan melihat dan mendengar sepotong-sepotong, bisa berbahaya ini,” ucap Anggi.

Anggi menegaskan, tindakan yang dilakukan oleh anak Kliennya ini ada hubungan sebab-akibat (kausalitas), sehingga tidak timbul serta merta tanpa ada pemicunya.

“Kami tidak pernah main-main untuk mengungkap kebenaran sejati. Klien kami sudah cukup sabar ketika Alm. DR. H. TB. Munir Sasmita di bawa-bawa dalam orasi politiknya dihadapan masyarakat oleh AES yang sebetulnya tidak harus membawa nama dari suami klien kami, karena memang tidak ada subtansinya. Harusnya kan visi misi yang disampaikan kenapa malah nama suami klien seolah menjadi bahan tertawaan,” tutup Anggi yang akan membuktikan posisi kebenaran sejati itu berada.

Laporan: Agus Sudrajat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *