Rehab SDN Tarteng Molor, Benarkah Baja Ringan Sesuai Spesifikasi ?

Purwakarta | Transjabar.com – Progres pelaksanaan rehab ruang kelas bersumber dari DAK ( Dana Alokasi Khusus ) Tahun Anggaran 2021 diduga banyak mengalami keterlambatan, selain itu kualitas baja ringan diduga tidak sesuai dengan spesifikasi bahan matrial yang dibutuhkan.

Pantauan transjabar.com, diantaranya pelaksanaan rehab kelas di SDN Tarteng, Kecamatan Wanayasa, Kab Purwakarta rehab yang menelan anggaran sebesar Rp.563.452.000 untuk rehab 7 kelas yang dikerjakan CV. MM lambat dari batas waktu yang sudah ditentukan.

Dari jadual pelaksanaan mulai 25 Juni sampai dengan 22 September 2021 progres pekerjaan diperkirakan baru mencapai 60 persen, sedangkan batas waktu sudah mengalami keterlambatan 7 hari kalender.

Sementara progres pelaksanaan baru memasang genteng dari 7 ruang kelas hanya 3 ruang kelas, termasuk pemasangan plafon juga kendor.

Saat ditemui dilokasi pekerjaan Wawan dan Dani mengaku baru beberapa hari kerja, tugasnya memasang genteng. Dirinya tidak tahu menahu soal progres pelaksanaan.

Ia hanya diminta untuk memasang genteng, dengan upah tiap harinya sebesar Rp. 100 ribu. Memang pekerjaan mengalami keterlambatan, mungkin karena matrial sering lambat.

Kepala Sekolah SDN Tarteng Endang Mulyana saat dimintai keterangan mengakui kalau pelaksanaan rehab seolah yang dia kelola mengalami keterlambatan.

Bahkan kata dia, sejak awal pelaksanaan rekanan pemborong juga sudah lambat. Seharusnya mulai pelaksanaan tanggal 25 Juni 2021, tapi mundur sekitar satu pekan.

https://youtube.com/shorts/pHSds8l1k8w?feature=share

” Saat ini lambat dari batas waktu, seharusnya tanggal 22 September 2021 selesai, ini baru masang genteng,” ujarnya.

Sejak awal sebagai kepala sekolah sama sekali tidak mengetahui soal RAB, karena memang dirinya sama sekali tidak diberikan informasi detail. Yang dia tahu, 7 ruang kelas akan direhab.

Ia menganggap rekanan memang kurang berkoodinasi dengan pihak sekolah, bahkan pembongkaran saja sebagai kepala sekolah tidak diberikan informasi.

” Tahu tahu dibongkar aja, ya mau bagaimana lagi, ” jelas dia.

Lebih lanjut kata dia, termasuk soal spesifikasi baja ringan dengan ukuranya apakah 0,75 atau dibawah juga tidak mengetahui. Karena memang rekanan pemborong tidak  menginformasikan tentang itu.

Kalau dihitung beban satu genteng  sekitar 1,2 kilogram, sedangkan kebutuhan untuk 7 ruang kelas sekitar 18 ribu genteng, tinggal dikalikan 1,2 kg X 18.000  saja, itulah nantinya beban atap.

“Kalau sampai baja ringan sebagai penopang genteng tidak sesuai, ya pasti kuatir. Saya berharap hasil pekerjaan sesuai RAB,”pungkasnya. (ctr).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *