Terkait Lambatnya Proyek RS Ciawi, Ini Kata Pelaksana PT Heral Eranio Jaya

Bogor|Transjabar.com – Kegiatan pembangunan Rumah Sakit Ciawi Bogor yang dikerjakan PT Heral Eranio Jaya, hingga saat ini belum selesai dikerjakan. Padahal, jika melihat pada waktu pelaksanaannya sesuai dengan kontrak kerjanya sudah habis.

Pelaksana PT Heral Eranio Jaya, Hidayat menyatakan progres kegiatan pembangunan Rumah Sakit Ciawi hingga sekarang dalam pengerjaannya sudah mencapai 51,5 persen. Sedangkan untuk pengerjaan struktur sendiri akan dilaksanakan dilantai akhir, termasuk pekerjaan arsitektur yang sedang dilakukan secara stimulan bersamaan dengan pekerjaan struktur.

“Dengan strategi ini kita ingin pekerjaan dilaksanakan secara stimulan tidak dengan pararel, kenapa agar bisa selesai secara bersamaan,” kata Hidayat.

Ia menerangkan, saat ini kendala dilapangan sendiri yaitu tidak mempunyai lokasi yang memadai untuk melakukan pabrikasi dan penumpukan material. Sehingga,
semuanya harus dilakukan melalui perencanaan yang ketat supaya pekerjaan dilapangan tidak saling berbenturan.

“Apalagi ini kan tim mulai dari arsitektur dan strukturnya berbeda, jadi bagaimana tim mereka bisa kerja sama tanpa ada benturan- benturan,” ujarnya.

Menanggapi adanya kritikan dari Komisi III DPRD Kabupaten Bogor saat sidak dan bertanya soal belum selesainya pekerjaan pada waktunya, Hidayat mengaku jika pihaknya sudah diberikan kompensasi atas kehilangan waktu yang disebabkan oleh perubahan desain dan volume.

Dimana, perubahan desain yang tadinya menggunakan pancang sepanjang 14 meter berubah jadi 21 meter. Oleh sebabnya, secara otomatis berarti harus melakukan produksi ulang pancang.

“Nah, saat melakukan itu kita mendapatkan surat pemberitahuan dari beberapa supplier yang kita pakai di pekerjaan ini. Tapi mereka mengalami produksinya karena adanya PSBB di Jakarta waktu itu. Tapi bersyukur, walaupun begitu bisa produksi meskipun terbatas dan mau tidak mau tetap harus produksi ulang,” akunya.

Dijelaskannya, dalam pekerjaan pembangunan RS Ciawi ada resiko yang kemungkinan bisa jadi untuk mencapai target awal tidak akan tercapai. Termasuk untuk perubahan volume secara otomatis akan terdampak sangat signifikan terhadap segala perubahan – perubahan.

“Jadi secara teknis bukan soal kultur tanahnya sebab sejauh ini dalam pelaksanaan kita sudah melakukan beberapa tes seperti tes boring, sondir dan indikator tes. Nah, ketiga ini hasilnya tidak menunjukan posisi panas poros di 14 meter terutama ketika kita melakukan indikator pres. Karena itu, kita harus segera meresponnya, jika tidak bangunan ini tidak bisa mencapai kekuatan maksimal kontur tanah yang direncanakan,” jelas Hidayat.

Laporan: Agus Sudrajat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *